Oleh : Muhammad Hauqil Era otonomi pendidikan yang kita nanti-nanti kan kehadirannya kini telah kita rasakan. Era mi menjadi kesempatan bagi semua sekolah untuk mereformasi perwajahan dunia pendidikan kita. Wajah pendidikan yang telah lama buram sudah saatnya direfonnasi sebaik mungkin, dibebaskan dan peraktek-peraktek kotor seperti dehumanisme dan kapitalisme, serta mengobarkan semangat ide alisme.
Namun harus diakui, kenyataan pendidikan yang berkembang saat mi masih jauh dari hara pan. Pendidikan kita tampak merana dalam suasa na yang mencemaskan. Pendidikan kita kelimpu ngan dengan problematika krusial yang seringkali muncul ke permukaan. Ambil contoh, dalam dunia persekolahan.
Di sekolah-sekolah kita pada umumnya, tak jarang kita temukan berbagai macam ekspresi anak didik yang tidak sewajamya. Lihat saja, ba gaimana ekspresi anak didik ketika sekolah dili burkan, atau bahkan ketika guru tidak hadir atau sakit, bukannya berduka-cita, malah mereka ber gembira dengan berhura-hura dan bahkan sampai ada yang bersyukur alhamdulillah. Demikian pula pada jam-jam sekolah, tidak sedikit anak-anak yang masih nongkrong di tepi jalan sambil ngemel, di warung-warung, di mall, dan di tempat-tempat yang dianggap menarik lainnya. Mereka tak menya dari akan urgensitas pendidikan. Tidak heran, jika mereka sekolah semata-mata karena takut absen atau karena ijazah. Sungguh ini adalah realitas pendidikan yang memrihatinkan. Bagaimana semua ini bisa terjadi?
Jika diperhatikan secara seksama, tidak sedikit lembaga-lembaga pendidikan kita masih diakui atau tidak—terjebak dalam metode pendidikan yang patemalistik, yang menempatkan anak didik sebagai objek pendidikan, instruksional dan antidialog. Utamanya pada lembaga-lembaga pendidikan masyarakat pinggiran yang jauh darijangkauan informasi.
Di sini, guru lebih “sebagai tukang” mengajar dari pada sebagai “pendidik”. Dalam kelas, guru semata-mata menyelesaikan halaman demi halaman buku “wajib” yang telah ditetapkan ketimbang mengembangkan anak didik menjadi lebih dinamis dan kreatif. Sehingga hubungan murid dengan guru menjadi kaku. Guru sebatas menjejah murid dengan sebanyak mungkin pengetahuan atau informasi. Sedangkan murid hanya berperan sebagai ‘gentong kosong’ yang tak berdaya. Inikah pendidikan?
Nah, dalam situasi kritis seperti ini, maka sa ngat dibutuhkan pendidikan yang dapat menghi langkan kebosanan murid, dan kengerian akan du nia pendidikan. Untuk itu, maka sangatlah tepat menempatkan pendidikan yang menyenangkan khususnya dalam proses pembelajaran sebagai ja lan altematif. Namun. bagaimana meramu proses pendidikan yang menyenangkan? Mampukah pen didikan dengan proses yang menyenangkan mela hirkan generasi-generasi berkualitas?
Belajar Sambil Bermain
Dunia anak-anak adalah dunia yang menye nangkan. Bagi anak-anak, tiada hari tanpa bermain. Hampir semua aktifitas anak-anak, dilakukan sambil bermain dengan penuh kegembiraan. Bahkan be lajar pun, harus dilakukan sambil bermain demi ter ciptanya suasana yang menggembirakan. Belajar sambil bermain sangatlah pas bagi anak-anak. De ngan demikian, mereka akan mudah menuyerap berbagai macam ilmu dan informasi yang mereka dengarkan, lihat, dan rasakan. Inilah dunia anak-anak yang merupakan hak mereka.
Dunia anak yang penuh dengan kegembiraan ini, tidak kita temukan dalam realitas pendidikan kita. Metode pendidikan yang sentralistik masih te rus menguasai jalannya pembelajaran di sekolah-sekolah. Di mana guru bertindak sebagai meminjam bahasanya Andrias Harefa the king can do wrong (raja yang tak pemah salah dalam menyiasati pem belajaran). Hubungan antara murid dan guru cen derung kaku. Murid diwajibkan datang ke kelas, mendengarkan “ceramah” guru, mencatat, lalu diam. Murid berada dalam suasana pembelajaran yang ambigu, statis, dan tidak partisipatif.
Yang paling menyakitkan hati, anak yang masih berusia dini (usia RA/TK) pun, sudah dicekoki de ngan beragam pengetahuan dan informasi yang hanya membingungkan bagi mereka. Anak didik tidak diberi kesempatan berekspresi dan mengem bangkan potensi yang dimiliki, atau minimal ngo mong di dalam kelas. Anak didik dipaksa untuk terus belajar, belajar, dan tiada hari tanpa belajar. Masa kanak-kanak yang seharusnya mendapatkan porsi bermain cukup besar, tidak mereka dapatkan.
Jangan beran, katika mereka malas sekolah, dan merasa jenuh mengikuti “pengajaran” bukan lagi “pembelajaran”. Jangan heran, ketika anak di dik dewasa, duduk di bangku SMA, universitas, mereka menjadi pelajar yang hanya “main-main”; tidak serius. Atau bahkan ketika menjadi akil rakyat nanti, mereka akan cendenmg main-main, rakyat dijadikan objek permainan, sehingga mereka lupa akan identitas mereka sebagai wakil rakyat yang harus merakyat, lupa sebagai pengemban ama nah, bahkan korupsi, kolusi, dan nepotisme tidak jarang mereka lakukan. Beginilah ketika “masa kecil kurang bahagia”.
Namun Alhamdulillah, sudah ada beberapa se kolah di negeri ini yang sadar dan menerapkan pendidikan yang menyenangkan. Seperti halnya SD Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya, Sekolah Alam Cinganjur, dan Sekolah Alam Bandung. Bebe rapa sekolah ini menjadikan alam sebagai objek pembelajaran sekaligus laboratorium raksasa. Se hingga anak didik merasa senang dan tidak bosan-bosan berinteraksi dengan alam sekitar. Maka, mu dah-mudahan model pembelajaran yang dioterap kan oleh beberapa sekolah di atas bisa diapresiasi dan ditiru oleh sekolah-sekolah lain, serta dapat membuka mata kita terutama praktisi pendidikan bahwa pendidikan itu sebenamya menyenangkan!
Angin Segar dari Kulibening
Di ujung timur kota Salatiga, tepatnya dilereng bukit Merbabu, terletak sebuah desa kecil yang damai dengan nama Kahbening. Di desa inilah pada juli 2003 lalu lahir metode pembelajaran pendidikan berbasis masyarakat (community based education)^ yang dikenal dengan “Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah (QT)”.
Seiring perjalanan waktu, QT telah mampu me nyita perhatian orang banyak karena sejumlah prestasi yang tems diraih. Tak tekecuali berbagai medea massa (televisi, surat kabar, majalah, radio) lokal maupun nasional, lembaga tinggi negara (legislatif maupun ekskutif), lembaga swadaya ma syarakat, perorangan, pemerhati sosial budaya, berbagai lembaga pendidikan, perguruan tingi, lin tas agama dan etnis, sampai beberapa tamu dari manca Negara telah datang untuk bebagi penga laman.
Begitulah, dalam waktu yang sangat singkat, QT telah mampu menyita perhatian orang banyak karena prestasi demi prestasi yang terns diraih anak-anak didiknya. QT telah mampu melahirkan anak didik dengan kemampuan yang mumpuni: anak didik yang tahu akanjati dirinya dan mempunyai semangat berkarya. Ambil contoh, Fina Afidatusso fa. Pada usianya yang masih terlalu kanak: 12 tahun (pada 2004), Fina sapaan akrabnya sudah mampu meraih juara dalam lomba penulisan Artikel On-line dengan bahasa rnggris. Meski dari sekolah desa yang berdiri di tengah-tengah masyarakat yang rata-rata miskin, ia mampu mangalahkan pe serta-peserta lain dari sekolah-sekolah negri yang maju sekalipun. Sudah ada beberapa buku yang ditulis oleh Fina. Di antaranya, Pemuja Rahasia, Pinangan Buat Naura, Gus Yahya: Bukan Cinta Bia sa, Lebih AsyikTanpa UAN, dan sebagainya.
Guru-gurunya pun tak ketinggalan. Seperti hal nya Bahruddin (orang yang memotori QT) yang menuangkan gagasannya tentang pendidikan le wat bukunya Pendidikan Altematif Demikian pula Sujono Samba dengan Lebih Baik tidak Sekolah-nya. Pertanyaannya sekarang: Bagaimana semua mi bisa diraih oleh QT? apa rahasia QT?
Tak ada yang istimewa dengan QT bila diban dingkan dengan sekolah-sekolah lain (negeri mau pun swasta) baik di pedesaan mapun di perkotaan. Bahkan pendidikan Qaryah Thayyibah yang kemu dian populer dengan SMP Altematif Qaryah Thay yibah ini tidak mempunyai ruang kelas, ruang guru, dan hal-hal lain yang berbau sekolah pada umum nya. Yang ada hanya satu, yaitu suasana pembela jaran yang menyenangkan. Murid harus selalu gembira, terbebas dari tekanan yang hanya mem bebani. Sebab, suasana yang membebaskan dan menyenangkan akan memunculkan daya inisiatif, inovatif dan kreatifitas dengan maksimal. Selailn itu, alam sekitar dijadikan media belajar yang di prioritas kan oleh pendidikan QT. Murid secara lang sung bersentuhan dengan pertanian, home indus tri, koperasi desa, sosio-kultural, dan lain sebagai nya. Sehingga murid tidak merasa terasing dari daerahnya sendiri.
Pendidikan QT sangat jauh dari sistem pendidi kan kita yang selama ini masih membelenggu, di ngin, birokratis, dan tidak berpihak (terutama pada keluarga miskin dan Wong Deso). Karena inilah pendidikan QT dikatakan pendidikan altematif.
Pendidikan Qaryah Thayyibah menawarkan konsep pendidikan altematif dengan prinsip-prinsip sebagai berikut: Pertama, pendidikan yang dilanda si semangat pembebasan, seta semangat peruba han ke arah yang lebih baik. Kedua, keberpihakan, terutama pada keluarga miskin yang juga berhak atas illmu pengetahuan dan pendidikan yang baik dan bermutu. Ketiga,metodologi yang dibangun selalu berdasarkan kegembiraan murid dan guru dalam proses pembelajaran. Keempat, mengutama kan partisipasi dan komunikasi yang sehat antara pengelola pendidikan, guru, siswa, masyarakat, dan lingkungannya dalam merancang-bangun system pendidikan yang relistis dan sesuai dengan kebutuhan (Sujono Samba, Lebih Baik tidak Seko lah.2007: 35-36).
Akhirnya, kita utamanya praktisi pendidikan sadar akan idealisme pendidikan sebagai upaya mencerdaskan anak bangsa, serta membenahi ber sama sistem pendidikan kita yang semrawut, lebih-lebih di era otonomi ini yang menawarkan Kurikulum Tiap Satuan Pendidikan (KTSP) yang memberikan kebebesan berekspresi. Pendidikan kita harus bangkit dari dunia khayal yang hanya menawarkan harapan-harapan semu, menuju dunia riil yang pe nuh dengan kepastian.
Mari kita bangun SDM anak bangsa yang ber kualitas dan mempunyai daya saing tinggi (competi tive advantage), melalui pendidikan yang menye nangkan yang sering dilupakan. Dengan harapan, negeri ini tidak lagi dikenal sebagai negeri para ko ruptor, negeri kaum pengangguran, negeri ramah bencana, negeri oang yang hanya main-main, dan tetek bengek lainnya. Melainkan dikenal sebagai negeri kaum berpendidikan, negeri para intelek tual, yang jujur, peka terhadap segala relitas kehidupan, serius, dan tidak main-main. Semoga !
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar